Senin, 13 Januari 2020

REVIEW PERKULIAHAN FILSAFAT PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN


TUGAS AKHIR MATA KULIAH 
REVIEW PERKULIAHAN PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
Dosen Pengampu Mata Kuliah :Prof. Dr. Marsigit, MA

 Wiwin Mistiani

Perkuliahan Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Adalah salah satu mata kuliah wajid di perkuliahan S3 PEP. Mata Kuliah filsafat yang di bawakan oleh Prof. Dr.Marsigit MA Sangat Unik, Baik dari Segi Penyampaian maupun Isi materi yang disampaikan. Mungkin banyak  diantara kita sampai hari ini masih berfikir  bahwa belajar filsafat dapat menjadikan kita jauh dari agama. Namun ternyata setelah mengikuti perkuliahan filsafat yang beliau bawakan, saya mengatakan bahwa dengan belajar filsafat sangat membantu saya dan kita semua  dalam memahami agama yang kita yakini. Dari  beberapa hal yang di sampaikan oleh Prof.  Dr. Marsigit. MA Saya Rangkum dalam Blog ini agar kita dapat belajar bersama.
Dimulai dari Perjalanan Filsafat.


Obyek  Filsafat adalah yang ada dan mungkin ada.   Yang ada dan mungkin ada itu sifatnya tetap Tokonya adalah Permenindes Yang berubah itu tokohnya Heraclitos.  Yang tetap itu yang ada dalam pikiran yang disebut dengan idealisme dan tokohnya adalah Plato, rasionalism tokohnya adalah R Descartes.  Sebaliknya yang berubah  itu adalah di luar pikiran (realism)kita dan tokonya adalah Aritoteles. Empirism tokohnya  David Home.  Sementara Imanuel Kant menyatakan ada dan mungkin ad aitu bisa tetap dan bisa berubah (rasionalis Empiris).  yang cenderung tetap  itu adalah pikiran kita, karena itu pikiran  itu cenderung konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum Identitas; jika derajatnya dinaikkan lagi menuju spiritual, dan dinaikkan lagi nilai kebenarannya dan nilai Identitasnya adalah tunggal (monoisme atau kuasa Tuhan). Jika ditarik kebawah, dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu dunianya yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Menurut Immanuel Kant, langit itu konsisten (para dewa, kakak terhadap adik, dosen terhadap mahasiswa, dll, semua tidak punya kesalahan). Semakin tinggi semakin kecil kontradiksi, sebenar benar yang tidak ada kontradiksi atau absolute adalah Tuhan. Semakin turun semakin besar kontradiksi, maka sebenar benar kontradiksi ada dalam predikatnya. Sebenar benar ilmu adalah sintetik a priori menurut Immanuel Kant. Ilmu mu akan lengkap dan kokoh jika bersifat sintetik a priori.  Contoh seni hanya untuk seni tidak untuk masyarakat maka itu hanyalah separuh dunia. Oleh karena itu timbullah Metode saintifik, mencoba itu Sintetik, dan menyimpulkan itu a priori.
Filsafat  adalah kesadaran  akan kedudukan dan implikasinya terhadap ruang & waktu dan Menggunakan Bahasa analog (Rumah kita semua ada di bahasa) dan   Filsafat itu adalah dirimu sendiri. ketikan aku  berdoa, maka aku adalah  seorang spiritualis,  tetapi, begitu ada orang yang berbuat aniaya, saya bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic, pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf, ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu sendiri maka sah-sah saja jika orang  mengemukaan pendapatnya atau  berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual. Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual.

Objek  filsafat adalah yang ada dan mungkin ada, semua yang engkau pikirkan apapun itu adalah sebuah wadah, wadah apapun yang ada dan meliputi yang  mungkin ada, ternyata dia juga merupakan isi dan Isi itu  itu juga wadah, kenapa  seperti itu karena metafisik. Hidup  manusia itu metafisik.  Metafisik itu apa? Metafisik itu  sifat di balik sifat, sifat mendahului sifat, sifat mengikuti sifat, sifat mempunya sifat.Jadi Setelah yang ada itu masih ada yang ada lagi terus begitu seterusnya. Maju tidak selesai mundur tidak selesai kenapa? karena manusia tidak sempurna. Kenapa manusia tidak sempurna agar manusia bisa hidup sebab jika manusia itu sempurna maka manusia tidak akan bisa hidup. misal kita diberi kesempurnaan mendengar, mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa hidup, kita bisa mendengar siksa neraka misalnya. Itu barulah satu sifat saja, bayangkan manusia yang mempunyai bermilyar-milyar sifat. Maka itulah hebatnya Tuhan memberi ketidaksempurnaan kepada kita untuk hidup. Jadi kesempurnaan manusia itu sebenarnya tidak sempurna atau bisa dikatakan manusia itu sempurna didalam ketidak sempurnaan dan tidak sempurna di dalam kesempurnaan

Law Of The Three Stages Positivisme  Menurut  A. Compte (1798-1857) adalah Spiritualism (theological Stage), Philosophy (Methaphysical Stage dan Modern (Positive Stage)
Tahap Perkembangan dunia diawali dengan priode Archaic, Tribal , Traditional ,Feodal, Modern, Pos Modern dan Sekarng ini yang disebut dengan Power Now (Contemporary)

Awal kehidupan  manusia itu fatal dan fital. Fatal itu terpilih , terpilih itu takdir. Saya akan memilih dua benda warna putih dan hitam saya mengambil yang warna putih. Yang telah terambil itu adalah takdir. Kenapa takdir karena sudah terjadi. Fital  itu memilih, memilih itu ikhtiar. Hilang fitalnya tidak ada kehidupan hilang fitalnya tidak ada kehidupan. Urusan akhirat fatal, urusan dunia fital, ternyata susah untuk mendefinikan hidup, bahwa sebenar-benarnya hidup adalah interaksi dinamik antara fatal dan fital. Berikhtiarlah seakan-akan masih hidup seribu tahun lagi, berdoalah seakan-akan besok mau mati, itu sudah kodratnya berinteraksi seperti itu, sifat yang ada dan mungkin ada, kalau ada yang bersifat tunggal itu disebut monoisme disingkat monisme. Monisme itu urusan langit.

Semua  yang engkau pikirkan apapun itu adalah sebuah wadah, wadah apapun yang ada dan meliputi yang  mungkin ada, ternyata dia juga merupakan isi dan Isi itu  itu juga wadah. Sebagaimana dikemukakan oleh  Immanuel Kant, isi bisa sekaligus menjadi wadah, tapi isi tidak sama dengan wadahnya. Contohnya tadi rambutnya berwarna hitam, itu yang disebut sebagai kontradiksi dalam filsafat , hidup itu penuh dengan kontradiksi. Prinsip yang kedua adalah prinsip identitas, A sama dengan A itu hanya terjadi didalam pikiran, karna pikiran sudah terbebas dari ruang dan waktu, jadi selagi dia diucapkan maka A yang aku ucapkan pertama dan A yang aku ucapkan kedua, A yang kurus dan A yang gemuk, jadi dalam kehidupan tidak ada A sama dengan A, matematika yang kamu pelajari itu hanya ada sebatas didalam pikiran semata. Padahal Dunia Anak adalah dunia di luar pikiran. Oleh karena itu manusia selalu diwarnai dengan kontradiksi-kontradiksi, saya bisa makan, minum dan bernapas itu semua karna hasil kontradiksi antara oksigen dan darah merah. Dengan kontradiksi itulah maka kita bisa hidup, maka manusia tidak bisa terhindar dari kontradiksi, yang jadi persoalan sekarang adalah bagaimana cara kita mengidentifikasi kontradiksi seperti apa, mana yang produktif dan mana yang kontraproduktif. Selanjutnya, kedudukan kontradiksi itu ada dimana? Isi atau wadah bagian mana yang mengalami kontradiksi ? semakin rendah posisi semakin dia ada didalam predikat semakin tinggi dia mengalami kontradiksinya, semakin tinggi posisinya maka semakin kecil kontradiksinya, paling tinggi dirangkum kedalam kekuasaan Tuhan yang absolut dan tidak ada kontradiksi didalamnya. Tuhan tidak mengenal kontradiksi yang mengenal kontradiksi hanyalah manusia. Manusia siapa? Bagi adikmu kamu sama sekali tidak mempunyai kontradiksi sedangkan bagi dirimu adikmu itu penuh dengan kontradiksi, karna dia adalah keseluruhan penggambaran dari sifat-sifatmu, karna wadah memiliki banyak sifat dan adikmu itu adalah salah satu isinya. Semilyar kali kamu belum bisa menjawab kontradiksi dari adikmu itu. Orang jawa punya solusi, solusinya adalah “ngono yo ngono, neng ojo ngono”, yang artinya “begitu ya begitu, tetapi jangan begitu”, yang satu wadah dan yang satu isi. Minum ya minum (wadahnya) tetapi jangan sambil berdiri (isinya).
Filsafat  adalah kesadaran  akan kedudukan dan implikasinya terhadap ruang & waktu dan Menggunakan Bahasa analog (Rumah kita semua ada di bahasa) dan   Filsafat itu adalah dirimu sendiri. ketikan aku  berdoa, maka aku adalah  seorang spiritualis,  tetapi, begitu ada orang yang berbuat aniaya, saya bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic, pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf, ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu sendiri maka sah-sah saja jika orang  mengemukaan pendapatnya atau  berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual. Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual.

Membangun  pengetahuan Secara Filsafat itu  dapat dimulai dari yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada mempunyai sifat meliputi yang ada dan yang mungkin ada pula, maksudnya adalah bahwa sifat-sifat yang ada dan yang mungkin ada itu jumlahnya banyak sekali; tidak cuma banyak tetapi berdimensi kirarkhis. Setiap yang ada mempunyai sifat, artinya jika ditinjau dari struktur Bahasa, maka yang ada itu berkedudukan sebagai Subjek atau Objek, sedang semua sifat-sifatnya berkedudukan sebagai Objek atau secara khusus disebut Predikat. Jadi di sini, Objek pun mempunyai Predikat, karena setiap Objek mempunyai sifat. Menurut Immanuel Kant, seorang filsuf bangsa Prusia (abad 15), secara pengetahuan atau ilmu pengetahuan atau secara pikir atau secara filsafat, maka di dunia ini hanya ada 2 (dua) prinsip yaitu prinsip Identitas dan prinsip Kontradiksi. Prinsip Identitas ialah keadaan tercapainya A=A, atau Aku = Aku, atau I = I …dst. Ternyata, dikarenakan Filsafat itu adalah sensitif terhadap Ruang dan Waktu, maka selama aku di Dunia, aku tidak pernah mengalami keadaan Identitas. Keadaan Identitas hanyalah terjadi di dalam pikiran kita, atau kalau kita mengandaikan atau kalau kita sudah sampai di akhirat. Di dunia ini memang benar aku tidak dapat mencapai Identitas, karena sebagai contoh belum selesai aku menunjuk diriku, maka dikarenakan ruang dan waktu, diriku yang tadi telah berubah menjadi diriku yang sekarang.

Sifat pengetahuan yang ada dalam pikiran  adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten, sedang sifat dari pengetahuan pengalaman adalah sintetik, dan bersifat kontradiksi. Dengan kontradiksi lah bisa ada produk baru. Yang diatas jika ditarik kebelakang adalah selaras dengn hal-hal yang ada dalam pikiran. Benda pikir itu tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Itulah dunia pikiran, bersifat ideal, tetap, menuju kesempurnaan. Maka itu akan tersapu habis untuk semua tokoh filsafat yang berchemistry dengan pikiran mulai dari yang bersifat tetap (Permenides), rasionalisme (Descartes), Perfectionism, Formalisme, dll. Tapi itu adalah dunia transenden, semakin keatas semakin bersifat transenden atau beyond (dunianya para dewa).  Engkau adalah transenden bagi adikmu, ketua adalah transenden bagi anggotanya, dan subjek juga transenden bagi para predikat-predikatnya. Maka transenden adalah sifatnya para dewa, dan pengalaman/kenyataan adalah dunianya para daksa. Tapi di dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai, uniknya, hebatnya, dan bersyukurnya dunia pendidikan itu karena kita mengelola, berjumpa serta berinteraksi dengan anak kecil.Anak kecil adalah dunia bawah, dunia diluar pikiran, dunia konkret, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak kecil bukanlah ilmu bagi orang dewasa. Tapi untuk anak kecil, pameran seni tidak hanya untuk dipandang tapi harus bisa dipegang/disentuh karena itu adalah dunia anak. Hakekat ilmu bagi anak adalah aktifitas/kegiatan. Mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa seperti kita. Fungsi guru adalah memfasilitasi anak didiknya. Ada= potensi mengada= ikhtiar pengada= produk. Dunia mengalami dilema (anomaly) karena kekuatan pikir itu adalah hebat, kekuatan pikir memproduksi resep/rumus untuk digunakan, jika dinaikkan bisa menjadi postulat-postulat kehidupan. The power of mind  (Francis Bacon) bisa merekayasa pikiran bisa mengkonstruk konsep sebagai resep kehidupan. Dan hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah peradaban. Jadi peradaban adalah produk dari the power of mind.
Ada 2 (dua) macam terjadinya konsep. Pertama, konsep terjadi tidak dengan permulaan/landasan; kedua, konsep terjadi dengan permulaan/landasan. Segala macam bentuk permulaan/landasan misalnya: janji, kesepakatan, konvensi, mou, hasil rapat, ketetapan Menteri. jikalau  seseorang membangun konsep dengan menetapkan suatu awal atau suatu landasan atau suatu pondamen, maka sadar atau tidak sadar, dia telah menjadi pengikut filsafat Foundationalisme. Sebenar-benar manusia, hanyalah berusaha menetapkan awalnya atau landasannya atau pondamennya; sebena-benar awal atau awal absolut hanyalah milik Tuhan YME. Namun Ternyata kita memunyai ada banyak sekali pengertian-pengertian yang memunyai sifat tidak memunyai awal/landasan/pondamen. Kita yang menyadarinya hal tersebut kemudian mengakuinya maka sadar atau tidak sadar kita termasuk ke dalam orang-orang yang Anti-foundationalisme. Tokoh dari filsafat Anti-foundationalisme adalah Brouwer; selanjutnya disebut juga sebagai aliran Intuitionisme.
Jika  objek pikir berada di dalam pikira kita, maka kita akan menemukan bahwa dia antara lain bersifat: absolut, bersifat tetap, statis,  bersifat, tunggal, bersifat, formal, bersifat sempurna, bersifat ideal, bersifat abstrak, bersifat immanent, bersifat transenden, bersifat reduksionisme, bersifat analitik, bersifat a priori, bersifat rigor,bersifat apodiktik, bersifat konseptual, bersifat normatif, bersifat spekulatif, bersifat hypothetical, bersifat imeginer, bersifat rasional, bersifat logis-tak logis, bersifat aksiomatis, bersifat paralogis, bersifat teleologis, bersifat murni, bersifat analog, bersifat deduksi, bersifat dialektik, bersifat Identitas, tidak terikat oleh ruang, tidak terikat oleh waktu. Kita dapat menemukan bahwa objek yang berada di luar pikiran memunyai sifat-sifat: relatif, berubah atau tidak tetap, dinamis, plural atau jamak, berfifat tidak sempurna, bersifat tidak ideal, bersifat nyata, berkedudukan sebagai contoh, bersifat sintetik, bersifat a posteriori, bersifat dinamik, diperoleh dari penginderaan, bersifat kontradiksi, bersifat empiris, bersifat sensasi, berlaku hukum sebab-akibat, terikat oleh ruang, terikat oleh waktu, bersifat kontingen, bersifat konkrit.
Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Karena ini olah pikir kita bisa praktik, praktiknya didalam laboratorium. Praktiknya filsafat, misalnya dengan bertanya dan memikirkan  bagaimana/apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Contohnya dalam aplikasi halo dokter, dokter melayani keluhan pasienya Hanya dengan mendengarkan keluhan pasien, ia bisa mendiagnosa penyakitnya dengan analisis dari pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya. Dokter ini menggunakan metode Analitik Apriori yaitu bisa memikirkan walaupun tidak melihat secara langsung objeknya. Hanya dari pengetahuan yang sebelumnya sudah pernah ia dapatkan. Sebaliknya seorang bapak yang ingin mengetahui calon menantunya, , ia harus melihatnya dan berkenalan dengan dengan anak manantunya, maka  bapak tersebut  itu menggunakan metode Sintetik a posteriori (kehidupan pengalaman).
Segala sesuatu itu berpasang-pasangan dan selalu mencari jodohnya, setiap yang ada dan mungkin ada itu adalah tesis, dan selain yang ada satu itu merupakan anti tesisnya, diriku merupakan tesis, maka semua selain diriku merupakan anti tesisnya. Dalam agama semua ketetapan yang telah diatur merupakan tesis sedangkan anti tesisnya merupakan ikhtiar. Tesisnya takdir maka anti tesisnya fital, tesisnya fatal maka anti tesisnya potensi, sehingga motivator itu mengembangkan potensi supaya manusia itu punya potensi, dan sebenar-benarnya hidup adalah berkembang menjadi suatu potensi dari ada menjadi pengada melalui mengada. Maka segala sesuatu yang berubah diikhtiarkan semua keatas, disitulah duduk yang namanya keikhlasan.
Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu sebelum engkau mengembarakan pikiranmu. Karena jika engkau mengembarakn pikiranmu tanpa menetapkan hatimu/spiritualmu sebagai komandanmu, bisa jadi pikiranmu tidak akan bisa kembali. Itulah fenomena linear (lurus tak berujung), maka orang yang hanya mengandalkan pikiran saja, hidupnya linear seperti garis lurus, tidak mengerti hidupnya akan berhenti sampai dimana, dan tidak bisa kembali (merefleksikan hidup=bersyukur). Namun jika hidupnya dituntun oleh spiritualitas maka pada setiap titiknya akan terjadi hermenitika kehidupan: pertama, fenomena menajam (dengan saintifik), fenomena mendatar (membudayakan), dan fenomena mengembang (konstruksi-membangun hidup)  Manfaat berfilsafat kita mampu menjelaskan posisi kita secara berstruktur dunia”.
Hidup  merupakan suatu interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Hidup itu tetap didalam perubahan, dan berubah didalam ketetapan. Didalam hidup manusia memiliki objek filsafat yang ada dan mungkin ada. Yang ada berada didalam dan diluar pikiran, yang bersifat tetap dan berubah, dan yang bersifat satu dan banyak. Yang tetap dan satu  berada didalam pikiran, karena lebih sering terjadi didalam pikiran. Semua yang dipikirkan merupakan suatu wadah dan memiliki isi. Isi dapat menjadi wadah, tetapi isi selamanya tidak akan sama dengan wadahnya. Hidup manusia merupakan pilihan dan hidup manusia dipenuhi dengan kontradiksi, itulah mengapa manusia dikatakan tidak sempurna dan jika manusia sempurna maka ia tidak akan hidup didunia ini. Begitu pentingnya filsafat untuk memahami semua hal tentang kehidupan ini, semakin banyak engkau belajar berfilsafat maka semakin banyak engkau dapat mengetahui tentang arti kehidupan.
 “Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Kita harus bisa mengabstraksi (memilih) yang mana struktur yang dipakai untuk membangun perkuliahan ini. Perkuliahan ini menggunakan struktur pikiran para filsuf. Jadi dunia dan akhirat penuh dengan struktur (full of structure). Jadi, secara filsafat untuk menjawab sebuah pertanyaan, begitu ada pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya, dilihat dari berbagai macam kedudukan struktur. Misal, wadah itu ada dimana? Tergantung strukturnya, bisa siang bisa malam. Kelembutan, wadahnya perempuan, ketegasan itu wadahnya laki-laki,  Wadah itu ada dimana-mana, yang engkau pikirkan, katakan, sebutkan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa isi? Karena setiap yang engkau sebut itu mempunyai sifat dan engkau tidak dapat menyebut sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat. Maka sebenar benarnya dunia adalah penuh dengan sifat. Jadi, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia.   

TUGAS AKHIR PROPOSAL FILSAFAT PENELITIAN & EVALUASI PENDIDIKAN


TUGAS AKHIR MATA KULIAH 

FILSAFAT PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
Dosen Pengampu Mata Kuliah :Prof. Dr. Marsigit, MA



RANCANGAN PROPOSAL DISERTASI

1.      Judul
PENGEMBAGAN ASSESSMENT PORTOFOLIO PADA MATA  PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMA
2.      Latarbelakang Masalah
Undang-Undang No 20 tahun 2003 pasal 3 menyatakan  bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang tujuanya untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas, 2003:5). 
Fungsi pendidikan nasional Indonesia tersebut sesungguhnya berpijak pada landasan ideologi  Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia, yang menempatkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, yang menunjukkan bahwa sila ketuhanan ini harus melandasi dan menjiwai seluruh sila-sila lainnya. Ini berarti bahwa seluruh gerak kehidupan bangsa Indonesia dan seluruh aspek kegiatan dalam segala bidangnya harus dilandasi oleh nilai-nilai ketuhanan. Atas dasar itulah, sudah seharusnya nilai-nilai keagamaan itu senantiasa ditransfer dan diinternalisasikan pada setiap warga negara secara sungguh-sungguh melalui pendidikan, agar terwujud warga negara yang berwatak atau berkepribadian yang kaffah (utuh/paripurna), yakni  beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan memiliki rasa tanggung jawab.
Proses internalisasi nilai-nilai keagamaan dapat dilakukan sekurang-kurangnya melalui implementasi  mata pelajaran agama dan budi pekerti  pada  semua jenjang pendidikan.. Keberadaan Pendidikan Agama lslam di sekolah Umum pada semua jenjang mengalami proses perkembangan yang relatif panjang, mulai dari kedudukannya sebagai pelajaran pilihan (lokal), kemudian menjadi mata pelajaran pilihan (berlaku secara nasional), dan akhimya menjadi mata pelajaran wajib untuk semua jenjang pendidikan dan berlaku secara nasional. Penguatan institusi PAI di sekolah umum terus mengalami perkembangan dan mendapat momentumnya dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kedudukan PAl di sekolah umum sebagai mata pelajaran merupakan bagian integral dari pendidikan nasional di samping berfungsi sebagai pengajaran agama Islam (transfer of knowledge), sosialisasi dan intemalisasi nilai nilai agama Islam juga rekonstruksi nilai-nilai baru. Tujuan akhir PAI adalah terbentuknya peserta didik yang berkepribadian muslim yang memiliki kemampuan, kognitif, afektif, dan psikomotor.
Karena itu, secara sosiologis PAI memiliki andil yang sangat besar bagi proses pembangunan karakter (character building). Bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, PAl merupakan benteng moralitas bangsa dan pembimbing hidup peserta didik serta meningkatkan mutu danmartabat hidupnya. Karena itu, jika PAl di sekolah umum merupakan bagian integral dari sistem pendidikan Nasional, berarti tidak kurang dari 75 % (35 juta) peserta didik di  seluruh Indonesia secara terprogram dan teratur mempelajari agama Islam untuk  diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika PAl di dilaksanakan secara efektif,  maka tujuan pendidikan yang diamanatkan UU Sisdiknas, yaitu terbentuknya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab niscaya akan tercapai.
Namun pada kenyataanya Pembelajaran  PAI secara umum belum dapat menghasilkan lulusan (outcome) seperti yang diharapkan. Hal itu mengindikasikan adanya kesenjangan antara harapan dengan kenyataan (tujuan dan hasil) atau dengan kata lain adanya  kesenjangan antara gnosis dengan praxis. PAI selama ini telah menghasilkan lulusan yang secara kognitif relatif baik Namun  Dalam kenyataannya terdapat indikasi bahwa hasil PAI dalam aspek kognitif tidak selalu paralel dengan pengamalan ajaran dan nilai nilai agama Islam. Kesenjangan itu menunjukkan bahwa PAI di Sekolah belum efektif mengintegrasikan pengetahuan keagamaan siswa dengan pengamalannya, bahkan berbagai fenomena dekadensi moral yang terjadi dalam kehidupan remaja dan pelajar akhir-akhir ini seringkali dijadikan sebagai barometer penilaian akan kekurangan pendidikan agama di sekolah.
Oleh karena itu, untuk dapat melihat tingkat pencapaian  tujuan Pendidikan secara menyeluruh  perlu dikembangkan alat ukur yang mampu memotret secara  komprehensif kemampuan dan keterampilan peserta didik baik secara kognitif afektif maupun Psikomotorik .Di sinilah letak pentingnya  peran asesmen pembelajaran karena dengan asesmen dapat menentukan umpan balik  yang konstruktif bijaksana yang merupakan salah satu penentu dari proses pembelajaran  yang efektif (Subramanian & et.al., 2012). Perbaikan kualitas pendidikan dapat dilakukan  melalui peningkatan kualitas proses pembelajaran dan kualitas sistem asesmennya (Mardapi, 2012: 4). Asesmen merupakan komponen yang penting dalam pembelajaran  (Russell & Airasian, 2012: 2), karena asesmen memiliki pengaruh yang kuat dalam  meningkatkan proses pembelajaran (Raymond, et al., 2012; Bers, 2008), bahkan  penggunaan prosedur asesmen yang benar dapat memberikan kontribusi langsung kepada  peningkatan belajar peserta didik (Miller, et al., 2009: 34). Oleh karena itu, guru harus  mampu mengembangkan alat asesmen yang baik yang mampu memotret secara tepat  kompetensi yang telah dicapai peserta didik.
Salah satu instrument yang penting dalam mengembangkan ketrampilan dan sikap peserta didik adalah portofolio. Sebagaimna Pada Peraturan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Permendikbud (2013) bahwa penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya pada sikap/perilaku dan keterampilan.
Portofolio sebagai penilaian menurut Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas, 2004) adalah kumpulan hasil karya seorang peserta didik sebagai hasil pelaksanaan tugas kinerja yang ditentukan oleh guru atau peserta didik bersama guru, sebagai bagian dari usaha mencapai tujuan belajar, atau mencapai kompetensi yang ditentukan dalam kurikulum. Jadi portofolio merupakan kumpulan dari karya peserta didik yang dikumpulkan berdasarkan tugas yang diberikan oleh guru di dalam pembelajaran dan dikumpulkan dalam kurun waktu tertentu, dalam hal ini penilaian berfokus kepada keterampilan dan sikap. Setelah kumpulan karya peserta didik dan bukti kegiatan dalam proses pembelajaran terkumpul, kemudian dinilai dengan menggunakan rubrik. Rubrik  berkedudukan sebagai pedoman penilaian, mengingat penilaian yang dilakukan bersifat subyektif, sehingga menjadi perlu untuk dibuat sebuah pedoman dalam pengambilan keputusan agar di dalam penilaian dilakukan secara lebih transparan dan bisa dipertanggungjawabkan serta mempunyai acuan-acuan yang jelas.
Namun dalam prakteknya dilapangan ada beberapa masalah terkait dengan penggunaan penilaian portofolio. Masalah tersebut antara lain adalah adanya anggapan guru yang merasa penilaian portofolio belum cocok dengan pembelajaran sehingga belum menggunakannya, dan untuk guru yang sudah menggunkan, ada yang masih mencari format yang pas dan sesuai untuk melakukan penilaian portofolio.  Berangkat dari masalah tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengembangan Assessment  Portofolio pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA.
3.      Rumusan Masalah
a.       Bagaimanakah Pengembangan Assessmen Portofolio pada mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di tinjau dari cakupan isi dan kepraktisan serta manfaatnya ?
b.      Apakah Assessment Portofolio sudah efektif mengukur ketrampilan dan sikap peserta didik?
  1. Metodologi Penelitian
a.       Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan (Research & Development). Adapun model yang digunakan adalah model pengembangan dari Plomp yang dikombinasikan dengan model Borg & Gall. Pengertian kombinasi dalam hal ini adalah langkah-langkah penelitian dan pengembangan menggunakan acuan pokok dari Plomp, sedangkan penentuan jumlah subjek ujicoba menggunakan acuan dari Borg & Gall, yaitu jumlah subjek ujicoba dari yang pertama, kedua dan seterusnya semakin meningkat Pengembangan model Pembelajaran PAI menempuh langkah-langkah: 1) analisis teori dan hasil penelitian sebelumnya, 2) penyusunan desain dan perangkat model  yang didasarkan pada hasil analisis beragam teori model dan hasil-hasil penelitian sebelumnya, 2) validasi pakar (expert judgement), yang dilakukan dengan menggunakan model focus group dicussion (FGD) dan delphi, 3) uji coba produk, 4) analisis data, dan 5) uji implementasi. Pakar atau ahli yang telibat dalam kegiatan FGD terdiri dari 4 orang dosen PPs S3 dengan bidang keahlian masing-masing: pendidikan PAI, pendidikan nilai, metodologi penelitian, dan pengukuran, 9 orang guru PAI SMA dan 3 orang kepala/wakil kepala SMA.
b.      Ujicoba produk
Aspek yang divalidasi dalam tahap uji model  ini meliputi uji model dan aplikasi model Assessment portofolio pada Pembelajaran PAI, Ujicoba model dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: uji coba tahap pertama, tahap kedua dan tahap ketiga sebagai uji implementasi.  Subjek ujicoba yang terlibat dalam penelitian ini terdiri dari siswa SMA, guru PAI, serta Kepala Sekolah maupun Wakil Kepala Sekolah sebagai representasi dari pimpinan sekolah dan mahasiswa PEP S3.
c.       Pengumpulan Dan Analisis Data
Pengumpulan data menggunakan inventory dan rating scale Instrumen pengumpulan data dianalis dengan CFA (Confirmatory Factor Analysis), model  dianalisis secara deskriptif berdasarkan penilaian guru PAI dan pimpinan sekolah serta dengan SEM (Structural Equation Modeling) untuk membuktikan asumsi model PAI. Untuk menguji kecocokan antara model  Assessment portofolio secara teoritis dengan data empiris, baik model pengukuran maupun model  assessment didasarkan pada empat indikator, yaitu: 1) Chi-Square 2) ρ-value; 3) RMSEA; dan 4) GFI. Pada analisis deskriptif, data kuantitatif yang diperoleh melalui instrumen penilaian dicari skor reratanya kemudian dikonversikan ke data kualitatif dengan skala 5, dan akhirnya dideskripsikan. Hasil deskripsi tersebut dijadikan sebagai dasar untuk menentukan Assessment portofolio yang dikembangkan beserta panduan dan perangkatnya. Konversi data kuantitatif ke data kualitatif dengan skala 5 menggunakan aturan yang merupakan modifikasi dari aturan yang dikembangkan oleh Sudijono (2003: 329 – 339). Aturan tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut di bawah ini.
Tabel . Standar Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif
Rerata Skor
Klasifikasi
Kesimpulan
> 4,2
Sangat Baik
Dapat dijadikan contoh
> 3,4 – 4,2
Baik
Dapat digunakan tanpa perbaikan
> 2,6 – 3,4
Cukup
Dapat digunakan dengan sedikit perbaikan
> 1,8 – 2,6
Kurang
Dapat digunakan dengan banyak perbaikan
≤ 1,8
Sangat Kurang
Belum dapat digunakan

REFERENSI
Depdikbud. (2013). Kerangka dasar dan struktur kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah. Jakarta: Depdikbud.
 Depdikbud. (2014). Pedoman penilaian hasil belajar oleh pendidik. Lampiran Permendikbud Nomor 104 Tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Oleh Pendidik pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdikbud
Mardapi, D. (2012). Pengukuran penilaian dan evaluasi pendidikan. Yogyakarta: Nuha Medika
Raymond, J. E., Homer, C. S., Smith, R., & Gray, J. E. (2012). Learning through authentic assessment: An evaluation of new development in the undergraduate midwifery curriculum. Nurse Education in Practice, 13(5), 471-476
Russell, M. K., & Airasian, P. W. (2012). Classroom assessment: concepts and applications (7th edition). New York: McGraw-Hill.
Russell, M. K., & Airasian, P. W. (2012). Classroom assessment: concepts and applications (7th edition). New York: McGraw-Hill.
Subramanian, J.,& et.al. (2012). Improving the quality of educational strategies in postgraduate dental education using student ang graduate feedback: findings from a qualitative study in New Zealand. European Journal of Dental Education, 1-8.

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH


TUGAS AKHIR MATA KULIAH FILSAFAT PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN
Dosen Pengampu Mata Kuliah :Prof. Dr. Marsigit, MA
A.    IDENTIFIKASI PERMASALAHAN FILSAFAT DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SEKOLAH
1.  Tidak  kurang dari 75 % (35 juta) peserta didik di  seluruh Indonesia secara terprogram dan teratur mempelajari  agama Islam untuk  diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataanya Pembelajaran  PAI secara umum belum dapat menghasilkan lulusan (outcome) seperti yang diharapkan.
2.  Adanya  kesenjangan / Kontradiksi antara harapan dengan kenyataan (tujuan dan hasil) yaitu antara penguasaan pengetahuan dan pengamalan agama Islam.
3.  Terdapat indikasi bahwa hasil PAI dalam aspek kognitif tidak selalu paralel dengan pengamalan ajaran dan nilai nilai agama Islam.
4. PAI di Sekolah belum efektif mengintegrasikan pengetahuan keagamaan siswa dengan pengamalannya,
5.    Fenomena   dekadensi moral yang terjadi dalam kehidupan remaja dan pelajar akhir-akhir ini Menjadi barometer penilaian akan kekurangan pendidikan agama di sekolah
6.   Pengembangan  kurikulum PAI selama ini cenderung lebih banyak ditentukan oleh kebijakan politik Pendidikan dari pada pertimbangan filosofis-pedagogis, sehingga berimplikasi pada formulasi kurikulum maupun implementasinya dalam proses pembelajaran.
7. Pendekatan saintific dalam Kurikulum 2013 diberlakukan kepada semua mata pelajaran termasuk pada mata pelajaran PAI pada semua jenjang. Salah satu  wujud yang tampak nyata penerapan metode saintifik muncul pada pedoman pengembangan RPP, yaitu sebagai EEK (Elaborasi, Eksplorasi dan Konfirmasi) yang harus muncul pada setiap kegiatan pembelajaran. Pertanyaan kemudian muncul, secara psikologis- filosofis apakah benar bahwa EEK dapat diterapkan untuk semua disiplin ilmu (termasuk ilmu-ilmu humaniora) Seperti Pada Mata Pelajaran PAI di Sekolah, Hal ini menjadi persoalan baru bagi  guru PAI dalam pelaksanaanya di sekolah.Sehingga mereka merasa kesulitaan dalam penerapanya terutama pada kasus pembelajaran Aqidah.
8.      Kurikulum 2013 masih memuat banyak persoalan controversial dan secara ontologis, pedagogis, psikologis dan empiris.
9.   Isu sentral dalam  menyusun materi kurikulum Pal yaitu yang   berkaitan dengan sumber yang dijadikan sebagai dasar menetapkan materi pelajaran,  ruang lingkup (skop) materi pelajaran, dan  sistematika urut-urutan (sekuens)  yang dinilai kurang  jelas dan terkesan mengulang ulang materi yang sama dan tidak mendalam.
10. Sehingga membuat peserta didik bosan dengan materi yang telah diberikan secara berulang ulang, namun disisi lain mereka tidak paham ajaran agama secara menyeluruh.
11.Selanjutnya ditinjau dari sumber belajar yang digunakan oleh guru selama ini praktek pembelajaran didominasi dengan Textbook oriented. Walaupun sudah disarankan agar terdapat variasi sumber belajar, tetapi belum secara eksplisit disebutkan pentinnya Pengembangan RPP dan LKS yang sesuai dengan paradigm Explorasi dan Membangun Hidup (Life Skill).
12. Demikian juga Walaupun sudah disebut pentingnya Portofolio dalam Penilaian, Namun Pada kenyataanya guru masih menjadikan test kognitif menjadi rujukan utama dalam menilai keberhasilan siswa dalam pembelajaran.
13.  Kompetesi guru PAI yang selama ini masih dinilai masih kurang, Hal ini dapat dilihat dari kedalaman materi yang di sampaikan dalam proses pembelajaran
14.  Metode  pembelajaran yang digunkan oleh Guru PAI   kurang berfariatif
15. Sarana prasarana pembelajaran masih sangat kurang serta Kerja sama orang tua dan pendidik dalam proses Pendidikan anak baik di rumah dan sekolah belum jerjalin baik.
B. BERDASARKAN PERMASALAH DIATAS MAKA PENULIS TERTARIK UNTUK MELAKUKAN PENELITIAN TERKAIT DENGAN :
1.  Pengembangan Assessment  Fortofolio  Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA
2.    Pengembagan Autentik Assessmemt Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Komputer.
3.   Model Pendidikan di Era Distrubsi ( Pendekatan Filosofis Imam Al Gazali dan Ibn Rusyd)
4. Model Pendidikan di Era Distrubsi (Explorasi Model Pendidikan Agama Islam di Berbagai Pusantren )
5.   Penerapan Logic Model dalam Evaluasi  Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah.

REVIEW PERKULIAHAN FILSAFAT PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN

TUGAS AKHIR MATA KULIAH  REVIEW PERKULIAHAN  PENELITIAN DAN EVALUASI PENDIDIKAN Dosen Pengampu Mata Kuliah :Prof. Dr. Marsi...